NEWS SINGASANA – Konservasi Lontar menjadi fokus utama Dinas Kebudayaan (Disbud) Bali dalam upaya menggali informasi baru terkait naskah kuno dan budaya lokal. Disbud aktif melakukan inventarisasi, penelitian, dan dokumentasi naskah lontar yang tersebar di berbagai pura, museum, dan koleksi masyarakat.

Tim Disbud Bali meninjau lokasi konservasi lontar, memeriksa kondisi fisik naskah, dan mendata konten tulisan yang memiliki nilai sejarah dan budaya tinggi. Informasi yang dikumpulkan akan membantu akademisi, peneliti, dan masyarakat memahami tradisi serta pengetahuan leluhur Bali.
Baca Juga : BPBD: Ada dua kejadian dampak hujan sehari penuh di Bali
Disbud juga bekerja sama dengan pakar konservasi dan lembaga pendidikan untuk memperkuat metode pelestarian. Langkah ini memastikan Konservasi Lontar tetap lestari, terjaga dari kerusakan akibat usia, cuaca, atau penanganan yang kurang tepat.
Selain pengumpulan data, Disbud Bali mendorong digitalisasi naskah lontar. Digitalisasi memungkinkan masyarakat dan peneliti mengakses informasi tanpa harus langsung menyinggung fisik naskah yang rentan rusak. Hal ini juga memperluas penyebaran ilmu pengetahuan dan mendukung pelestarian budaya Bali.
Kepala Disbud Bali menekankan pentingnya menemukan informasi baru dari setiap naskah lontar. Ia menilai setiap lontar menyimpan pengetahuan unik, mulai dari sastra, agama, hingga ilmu pertanian dan kesehatan tradisional. Konservasi Lontar menjadi jembatan antara tradisi dan penelitian modern.
Masyarakat Bali diajak berperan aktif melindungi naskah lontar di lingkungan masing-masing. Disbud memberikan pelatihan dasar cara merawat lontar, menata koleksi, dan melaporkan naskah yang membutuhkan profesional.
Dengan pendekatan sistematis, Disbud Bali berharap Konservasi Lontar tidak hanya terjaga secara fisik, tetapi juga terus menghadirkan informasi baru. Upaya ini memperkuat identitas budaya, mendukung pendidikan, dan memastikan generasi mendatang dapat mempelajari warisan leluhur secara lengkap.








