NEWS SINGASANA – Harga manggis mengalami kenaikan signifikan di sejumlah daerah setelah hasil panen anjlok. Kondisi ini menyebabkan pasokan di pasar menurun drastis, sehingga harga komoditas buah tersebut melonjak hingga mencapai Rp80.000 per kilogram.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/buah-manggis-yang-dipanen-oleh-warga-di-Desa-Bulusari.jpg)
Harga manggis yang tinggi ini dirasakan langsung oleh pedagang dan konsumen. Pedagang mengaku kesulitan mendapatkan stok dalam jumlah besar karena produksi dari petani berkurang akibat faktor cuaca dan musim panen yang tidak stabil.
Baca Juga : Bule Australia Ngamuk di Bandara Ngurah Rai
Para petani manggis menjelaskan bahwa perubahan iklim turut memengaruhi kualitas dan jumlah hasil panen. Curah hujan yang tidak menentu membuat sebagian pohon manggis tidak berbuah optimal, sehingga produksi turun dibandingkan periode sebelumnya.
Di sisi lain, permintaan pasar terhadap manggis tetap tinggi, terutama untuk kebutuhan konsumsi dalam negeri maupun ekspor. Ketidakseimbangan antara permintaan dan pasokan inilah yang mendorong kenaikan harga secara signifikan.
Harga manggis yang mencapai Rp80.000 per kilogram juga berdampak pada rantai distribusi. Sejumlah pedagang mengurangi volume pembelian untuk menghindari risiko kerugian akibat fluktuasi harga yang tidak stabil.
Pemerintah daerah dan instansi terkait didorong untuk memberikan pendampingan kepada petani agar dapat meningkatkan produktivitas. Upaya ini mencakup penggunaan teknologi pertanian yang lebih baik serta pengelolaan lahan yang lebih efektif.
Dengan kondisi saat ini, pelaku pasar berharap harga manggis dapat kembali stabil seiring membaiknya hasil panen di musim berikutnya. Stabilitas produksi menjadi kunci utama untuk menjaga keseimbangan harga di pasaran dan melindungi kesejahteraan petani.







