Inovasi Digital Taruna Poltekpin di Lapas Tabanan: Meninggalkan Warisan untuk Kemandirian Warga Binaan
NEWS SINGASANA – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Tabanan menjadi saksi nyata kolaborasi antara pendidikan dan pelatihan driver melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) dua taruna Politeknik Pengayoman Indonesia (Poltekpin). Selama hampir 50 hari, Abdoel Fachri Nur dan Aria Aprilia Perkasa, taruna Jurusan Ilmu Pemasyarakatan, tidak hanya menjalani tugas rutin, tetapi juga mewariskan warisan berhargasistem pemasaran digital berbasis e-commerce untuk produk karya Warga Binaan.
KKN yang Berdampak: Dari Kampus ke Lapas
Program KKN biasanya identik dengan kegiatan sosial di desa atau pusat komunitas. Namun, dua taruna Poltekpin ini memilih lokasi yang unik—Lapas Tabanan—sebagai tempat pengabdian. Tugas mereka bukan sekedar observasi, tetapi juga dalam proses pembinaan dengan pendekatan teknologi.
“Ini adalah contoh nyata bagaimana dunia pendidikan bisa bersinergi dengan lembaga pemasyarakatan untuk menciptakan solusi inovatif,” ujar Prawira Hadiwidjojo, Kepala Lapas Tabanan , dalam acara pelepasan taruna.
E-Commerce untuk Produk Lapas: Solusi Pemasaran Modern
Salah satu tantangan terbesar Lapas Tabanan adalah memasarkan produk kerajinan, makanan, dan hasil karya Warga Binaan. Selama ini, pemasaran masih mengandalkan pameran lokal atau penjualan langsung di sekitar Lapas.

Baca Juga: Timnas U-17 Indonesia TC di Bali, Fokus Matangkan Persiapan Hadapi Piala Dunia Qatar
Melihat peluang ini, kedua taruna merancang platform berbasis digital e-commerce yang memudahkan masyarakat luas mengakses produk-produk tersebut. Fitur yang disediakan meliputi:
-
Katalog digital beragam produk (kerajinan tangan, makanan, hasil pertanian).
-
Mekanisme pemesanan online dengan sistem pengiriman terintegrasi.
-
Promosi melalui media sosial untuk menjangkau pasar lebih luas.
“Dengan sistem ini, produk Warga Binaan dapat dinikmati oleh lebih banyak orang, bahkan di luar Bali. Ini juga meningkatkan motivasi mereka untuk terus berkarya,” jelas Abdoel Fachri .
Inisiatif ini mendapat apresiasi tinggi dari petugas Lapas. Wayan Surya Wirawan, Kepala Kesatuan Pengamanan Lapas , menyatakan bahwa inovasi digital sejalan dengan visi pemasyarakatan modern.
“Kami ingin Warga Binaan tidak hanya mandiri di dalam, tapi juga siap bersaing di luar. Teknologi adalah kuncinya,” katanya.
Kisah Haru dan Janji untuk Terus Berkontribusi
Selama KKN, kedua taruna mengaku mendapat pengalaman tak ternilai. “Kami dianggap seperti keluarga. Bukan hanya mengajar, tapi juga belajar banyak tentang arti pelatihan yang manusiawi,” ungkap Aria Aprilia .
Mereka berharap platform ini terus dikembangkan, bahkan bisa direplikasi di Lapas lain di Indonesia.
Keberhasilan program KKN Abdoel dan Aria membuktikan bahwa pengabdian masyarakat dapat melahirkan solusi nyata. Bukan hanya memenuhi syarat akademik, mereka telah menorehkan dampak berkelanjutan bagi Warga Binaan Lapas Tabanan.
“Mereka sudah pergi, tapi karyanya tetap ada. Ini baru awal dari transformasi digital di Lapas kami,” pungkas Kalapas Prawira .







