NEWS SINGASANA– Hujan deras yang mengguyur sebagian besar wilayah Kabupaten Tabanan dalam beberapa hari terakhir mengakibatkan banjir, longsor, dan pohon tumbang di delapan kecamatan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tabanan mencatat sedikitnya 66 titik terdampak bencana dengan total kerugian mencapai Rp3 miliar.
Kecamatan Kediri dan Tabanan menjadi wilayah dengan tingkat kerusakan paling parah. Sementara itu, Kecamatan Kerambitan, Selemadeg Timur, Selemadeg Barat, Marga, Baturiti, dan Penebel juga melaporkan kerugian cukup besar akibat bencana hidrometeorologi ini.
Verifikasi dan Upaya Perbaikan
Kepala BPBD Tabanan, I Nyoman Sri Nadha Giri, menjelaskan bahwa pihaknya saat ini tengah melakukan verifikasi di lapangan. Hasil verifikasi akan dilaporkan terlebih dahulu kepada Bupati Tabanan untuk menentukan langkah perbaikan menggunakan anggaran Bantuan Tak Terduga (BTT).
“Perbaikan akan dilakukan secara bertahap dengan menggunakan anggaran BTT. Bantuan ini bersifat stimulan, sehingga tidak semua kerugian ditanggung penuh. Misalnya, jika kerugian mencapai Rp50 juta, pemerintah akan membantu sebagian,” jelasnya.
Langkah ini diambil agar proses pemulihan pascabencana dapat segera dilakukan tanpa harus menunggu lama, mengingat banyak rumah warga, fasilitas umum, hingga akses jalan yang mengalami kerusakan.
Bantuan untuk Warga Terdampak
Selain memverifikasi kerusakan, BPBD Tabanan juga telah menyalurkan bantuan logistik kepada warga terdampak. Bantuan tersebut berasal dari Corporate Social Responsibility (CSR) serta kepedulian sosial berbagai pihak ketiga.
Warga di Perumahan Panorama Sanggulan, Kecamatan Kediri, dan Perumahan Lembah Jati menjadi sebagian penerima bantuan logistik berupa kebutuhan pokok sehari-hari hingga perlengkapan dasar seperti sarung.
“Bantuan ini diberikan agar kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi, sekaligus meringankan beban masyarakat yang terdampak banjir dan longsor,” ungkap Giri.
Ia menambahkan, pihaknya terus melakukan pemantauan intensif di lapangan untuk mengantisipasi kemungkinan bencana susulan, mengingat kondisi cuaca masih berpotensi ekstrem.

Baca Juga: Sekolah Rakyat Tabanan Jadi Percontohan Sekolah Berasrama Ramah Lingkungan
Imbauan Waspada Cuaca Ekstrem
BMKG telah menetapkan Kabupaten Tabanan dalam zona waspada hujan sedang sejak 11 hingga 20 September 2025. Kondisi ini berpotensi memicu tanah longsor, banjir bandang, hingga pohon tumbang.
“Imbauan kewaspadaan sudah kami sebarkan ke seluruh kecamatan di Tabanan. Kami minta warga untuk lebih berhati-hati, terutama saat beraktivitas di luar rumah saat hujan deras,” kata Giri.
Beberapa wilayah yang diminta meningkatkan kewaspadaan antara lain Kecamatan Pupuan, Selemadeg Barat, Selemadeg, Selemadeg Timur, dan Kerambitan. Masyarakat diimbau menjauhi lokasi rawan longsor serta bantaran sungai, menjaga kebersihan lingkungan, dan tidak membuang sampah sembarangan yang dapat menyumbat saluran air.
Tak hanya itu, BPBD juga mengingatkan pelaku wisata bahari agar waspada terhadap potensi angin kencang dan gelombang tinggi di perairan Selat Bali yang diperkirakan mencapai 1 hingga 3,5 meter.
Sinergi Pemerintah dan Warga
Bencana yang melanda Tabanan menjadi pengingat pentingnya sinergi antara pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana. Pemerintah daerah melalui BPBD telah menyiapkan langkah-langkah mitigasi, namun kewaspadaan masyarakat tetap menjadi kunci untuk meminimalisir risiko.
“Bencana tidak bisa kita hindari, tetapi bisa kita kurangi dampaknya dengan kesiapsiagaan bersama,” tegas Giri.







